Pegal Saat Bawa Tas, Siswa SD di Semarang Ciptakan Alat Deteksi Beban
Angling
Adhitya Purbaya - detikNews
Semarang - Pegal-pegal kerap dirasakan siswa
pelajar akibat membawa banyak buku atau barang lainnya di dalam tas mereka. Hal
itu ternyata membuat seorang siswa SD di Semarang bernama Rafi Yudha Hidayat
(10) menciptakan alat yang bisa memberitahu kalau beban tas terlalu berlebihan.
Siswa kelas
5 SD Al-Azhar 29 Semarang itu awalnya melihat dan merasakan beban tas yang
dibawa selama ini terkadang berlebihan dan menyiksa bagian pundak. Bocah
yang hobi membaca dan browsing pengetahuan di internet itu kemudian mencari
tahu sebatas mana beban tas yang seharusnya dibawa siswa SD.
"Banyak
teman-teman yang mengalami masalah karena tasnya berat, punggung jadi sakit.
Saya juga merasakan. Saya terus cari lewat google, di The American Occupational
Therapy Association," kata Rafi saat ditemui detikcom, Kamis (8/10/2015).
Dari hasil
searching-nya itu ternyata diketahui beban yang baik dibawa di dalam tas adalah
tidak lebih dari 10% berat badan si pembawa tas. Anak kedua dari pasangan Daya
Hidayat dan Yusi Pritawati itu kemudian terpikir untuk membuat alat yang bisa
memberi tahu pemilik tas kalau bebannya terlalu berat.
"Saya
buat alat ini supaya siswa-siswa tidak mengalami masalah akibat
menggunakan tas berat," tandasnya.
Alat sederhana tersebut bisa mengeluarkan suara jika beban tas melebihi 10% berat badan pembawa tas. Bunyi alarm yang disematkan dalam alat bernama Bag Overweight Sesor (BOS) itu terinspirasi dari lift yang kelebihan muatan.
"Lift itu kan kalau kelebihan beban ada bunyinya. Inspirasinya dari situ. Terus cari bahan-bahannya dibantu guru pembimbing," pungkas siswa yang tinggal di Graha Taman Bunga A4 no 17, Semarang itu.
Rafi
kemudian mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan yaitu neraca pegas, logam,
ruji sepeda, kabeltis, kabel biasa, dan sirine sepeda sebagai alarm. Ia dibantu
guru pembimbing kemudian melakukan percobaan.
"Saya
dibantu guru pembimbing, kan ada melubangi alat-alatnya, merakit," ujar
Rafi.
Percobaan
pertama Rafi gagal karena dua neraca pegas yang dipasang di masing-masing strap
atau tali sandang menunjukkan angka berbeda sehingga akurasi tidak sempurna.
Kemudian percobaan kedua menggunakan sensor di bagian bawah ransel. Ternyata
percobaan itu kembali gagal karena beban tas paling berat ada di starp yang
berada di pundak bukan di bawah ransel.
BOS yang
dibuat Rafi cukup sederhana, cara kerjanya yaitu memasukkan logam kecil yang
sudah terpasang kabel ke lubang di kaca jarum penunjuk pada neraca pegas sesuai
dengan 10% berat badan. Kemudian jika beban tas melebihi 10% berat badan maka
tembaga pada jarum penunjuk akan menyentuh logam sehingga alarm yang diletakkan
di dalam tas akan berbunyi.
"Jadi kalau berat badannya 50 kilogram ya bebannya tidak boleh lebih dari 5 kilogram. Sisa beban dibawa pake tangan," katanya.
"Jadi kalau berat badannya 50 kilogram ya bebannya tidak boleh lebih dari 5 kilogram. Sisa beban dibawa pake tangan," katanya.
Detektor
tersebut pemakaiannya belum secara portable, namun harus diaplikasikan dengan
dipasang langsung pada bagian atas ransel dan tali sandang. Jadi alat BOS akan
menjadi satu rangkaian dengan tali sandang.
Berkat ide
dan kreatifitasnya, temuan Rafi itu bulan lalu memenangkan lomba Kalbe Junior
Scientist Award (KJSA) di Jakarta. Proposal tentang BOS berhasil melibas 811
proposal lainnya dan mengalahkan 18 besar tepilih.
"Setelah
pengumuman terpilih terus lomba seminggu di Jakarta, disuruh persentasi,"
ujarnya.
Para
pemenang sempat bertemu Presiden Jokowi di Istana Presiden dan Mendikbud
Anies Baswedan di kantor Kemendikbud. Hasil karya Rafi pun kini dipajang di PP
Iptek untuk dipamerkan selama setahun.
"Maunya
di sempurnain lagi. Pengen lebih ringkes lagi," tandas siswa yang ikut
ekstra kulikuler robotik di sekolahnya itu.
Guru
pembimbing, Titan Ajiyan (26) mengatakan dirinya hanya mendampingi dan sedikit
membantu Rafi misalnya pada jurnal sehingga ada teori yang diterapkan pada alat
tersebut, sedangkan idenya tetap dari Rafi.
"Guru
pembimbing itu mencarikan jurnal misalnya mengenai beban yang bisa ditampung oleh
tulang, sehingga ada teori yang bisa dipertanggungjawabkan mengenai itu.
Kemudian memberikan berbagai macam solusi jika ada masalah," terang Titan.
Alat buatan
Rafi yang bisa dibilang masih prototipe itu diharapkan masih bisa berkembang
lebih ringkas. Bahkan sudah ada rencana untuk pembahasan hak paten dengan LIPI.
"Dengan
LIPI berencana pematenan, tapi masih perbincangan. Dari kita sendiri akan mengurus
pematenan," kata Titan.
"Ini
bisa disebut prototipe tapi sudah berfungsi baik. Ini membuatnya cepat, satu
alat sekitar Rp 75 ribu," imbuhnya.
Sementara
itu wali kelas Rafi di kelas 5 Yunus, Hari Priyono mengatakan Rafi memang
unggul di bidang Matematika dan IPA melebihi teman-teman sekelasnya. Ia pandai
bergaul dan melihat situasi di sekitarnya.
"Pergaulannya
bagus, pelajarannya bagus. Matematika sering dapat nilai 100, dari segi
pelajaran IPA juga tinggi," ujar Hari.
"Saya
ini makannya nasi juga, kalau pagi suka makan sereal," timpal Rafi sembari
tersipu malu.
(alg/Hbb) (DetikCom)
Kamis, 08 Oct 2015
Jeffry Wicaksana, Remaja Pencipta Helm Bambu Berstandar SNI
- detikNews
Jakarta - Masyarakat Indonesia diharuskan
memakai helm SNI (Standar Nasional Indonesia) ketika berkendara. Pernahkah ada
di benak Anda pohon bambu bisa disulap jadi helm yang diakui dengan SNI? Jeffry
Wicaksana, seorang remaja Jakarta berusia 17 tahun menjawab pertanyaan itu.
Jeffry yang
masih duduk di bangku kelas 3 SMA Santa Laurensia, Jakarta itu, menciptakan
inovasi produk helm berstandar nasional dari sebilah bambu ketika ikut lomba
karya ilmiah di LIPI. Alhasih dia menggondol juara di bidang Ilmu Pengetahuan
Teknik.
"Saya
lihat helm motor itu kan banyak pakai plastik, kebutuhan kita akan plastik itu
kan menggunakan minyak tanah yang lama-lama akan habis. Jadi kepikiran saja
kenapa kita enggak coba cari benda untuk subsitusi helm itu. Bambu itu
diremehkan, padahal fungsinya banyak," katanya soal awal idenya, kepada
detikcom di Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Rabu (14/5/2014).
Idenya itu
membawanya meraih medali emas di kompetisi Olimpiade Proyek Ilmiah Tingkat
Internasional Bidang Fisika Lingkungan tahun 2013. Keunggulannya karena bambu dianggap
lebih ramah lingkungan.
"Saya
coba bikin material bambu komposit untuk helm sepeda motor tapi untuk luarnya
saja, di dalamnya tetap pakai stereofom. Kami pakai carbon fiber agar sepeda
motornya lebih kuat, jadi kalau ada benturan lebih aman. Lebih ramah lingkungan
karena bisa tergradasi dengan cepat dibanding plastik juga," jelas Jeffry
yang membuat inovasi itu bersama satu orang teman lainnya.
Karya
inovasi Jeffry itu membuatnya direkomenasikan Kemendikbud ikut program
Outstanding Students For The World. Program tahunan itu memfasilitasi sejumlah
siswa dan mahasiswa yang dianggap berprestasi untuk unjuk kebolehan ke luar
negeri. Tahun ini, pelajar yang terkemuka itu akan berkunjung ke Kanada selama seminggu,
18-25 Mei mendatang.
Jeffry
berujar, prestasinya tidak hanya inovasi helm bambu itu saja. Sebagai anak
remaja, dia mengaku adalah orang yang sering merasa penasaraan akan sesuatu hal
baru. "Hobby saya iseng mencoba sesuatu. Saya tipe bosanan dan sering
merasa penasaran," katanya.
Prestasi lain
pria berkaca mata itu juga tersebar di berbagai bidang seperti lomba debat,
matematika, komputer, dan lomba menulis. "Passion saya enggak bisa stay di
satu tempat, saya enggak bakal tahan lakukan rutinitas," ujarnya.
Anak pertama
dari dua bersaudara itu melanjutkan dia masih ingin mengembangkan helm
bambunya. Tapi, lagi-lagi seperti anak berpretasi lain, dia kesulitan karena
belum ada penyedia dana.
"Saya
niat untuk membuatnya secara massal kalau misalnya bisa ada yang danain. Kalau
mau dieksperimen lebih lanjut lumayan mahal sih, tapi kalau biaya produksinya
bisa bersaing sama helm plastik. Ini aman sudah diuji SNI, bahkan sebenarnya
lebih aman daripada yang plastik jika ada terjadi benturan," kata pelajar
yang ingin kuliah di Hongkong itu. (DetikCom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar