INSPIRASI

Kamis, 08 Oct 2015

Pegal Saat Bawa Tas, Siswa SD di Semarang Ciptakan Alat Deteksi Beban





Angling Adhitya Purbaya - detikNews



Semarang - Pegal-pegal kerap dirasakan siswa pelajar akibat membawa banyak buku atau barang lainnya di dalam tas mereka. Hal itu ternyata membuat seorang siswa SD di Semarang bernama Rafi Yudha Hidayat (10) menciptakan alat yang bisa memberitahu kalau beban tas terlalu berlebihan.


Siswa kelas 5 SD Al-Azhar 29 Semarang itu awalnya melihat dan merasakan beban tas yang dibawa selama ini terkadang berlebihan dan menyiksa bagian pundak.  Bocah yang hobi membaca dan browsing pengetahuan di internet itu kemudian mencari tahu sebatas mana beban tas yang seharusnya dibawa siswa SD.

"Banyak teman-teman yang mengalami masalah karena tasnya berat, punggung jadi sakit. Saya juga merasakan. Saya terus cari lewat google, di The American Occupational Therapy Association," kata Rafi saat ditemui detikcom, Kamis (8/10/2015).

Dari hasil searching-nya itu ternyata diketahui beban yang baik dibawa di dalam tas adalah tidak lebih dari 10% berat badan si pembawa tas. Anak kedua dari pasangan Daya Hidayat dan Yusi Pritawati itu kemudian terpikir untuk membuat alat yang bisa memberi tahu pemilik tas kalau bebannya terlalu berat.

"Saya buat alat ini supaya siswa-siswa tidak mengalami masalah  akibat menggunakan tas berat," tandasnya.

Alat sederhana tersebut bisa mengeluarkan suara jika beban tas melebihi 10% berat badan pembawa tas. Bunyi alarm yang disematkan dalam alat bernama Bag Overweight Sesor (BOS) itu terinspirasi dari lift yang kelebihan muatan.

"Lift itu kan kalau kelebihan beban ada bunyinya. Inspirasinya dari situ. Terus cari bahan-bahannya dibantu guru pembimbing," pungkas siswa yang tinggal di  Graha Taman Bunga A4 no 17, Semarang itu.

Rafi kemudian mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan yaitu neraca pegas, logam, ruji sepeda, kabeltis, kabel biasa, dan sirine sepeda sebagai alarm. Ia dibantu guru pembimbing kemudian melakukan percobaan.

"Saya dibantu guru pembimbing, kan ada melubangi alat-alatnya, merakit," ujar Rafi.

Percobaan pertama Rafi gagal karena dua neraca pegas yang dipasang di masing-masing strap atau tali sandang menunjukkan angka berbeda sehingga akurasi tidak sempurna. Kemudian percobaan kedua menggunakan sensor di bagian bawah ransel. Ternyata percobaan itu kembali gagal karena beban tas paling berat ada di starp yang berada di pundak bukan di bawah ransel.
BOS yang dibuat Rafi cukup sederhana, cara kerjanya yaitu memasukkan logam kecil yang sudah terpasang kabel ke lubang di kaca jarum penunjuk pada neraca pegas sesuai dengan 10% berat badan. Kemudian jika beban tas melebihi 10% berat badan maka tembaga pada jarum penunjuk akan menyentuh logam sehingga alarm yang diletakkan di dalam tas akan berbunyi.

"Jadi kalau berat badannya 50 kilogram ya bebannya tidak boleh lebih dari 5 kilogram. Sisa beban dibawa pake tangan," katanya.

Detektor tersebut pemakaiannya belum secara portable, namun harus diaplikasikan dengan dipasang langsung pada bagian atas ransel dan tali sandang. Jadi alat BOS akan menjadi satu rangkaian dengan tali sandang.

Berkat ide dan kreatifitasnya, temuan Rafi itu bulan lalu memenangkan lomba Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) di Jakarta. Proposal tentang BOS berhasil melibas 811 proposal lainnya dan mengalahkan 18 besar tepilih.

"Setelah pengumuman terpilih terus lomba seminggu di Jakarta, disuruh persentasi," ujarnya.
Para pemenang sempat bertemu Presiden Jokowi di Istana Presiden  dan Mendikbud Anies Baswedan di kantor Kemendikbud. Hasil karya Rafi pun kini dipajang di PP Iptek untuk dipamerkan selama setahun.

"Maunya di sempurnain lagi. Pengen lebih ringkes lagi," tandas siswa yang ikut ekstra kulikuler robotik di sekolahnya itu.

Guru pembimbing, Titan Ajiyan (26) mengatakan dirinya hanya mendampingi dan sedikit membantu Rafi misalnya pada jurnal sehingga ada teori yang diterapkan pada alat tersebut, sedangkan idenya tetap dari Rafi.

"Guru pembimbing itu mencarikan jurnal misalnya mengenai beban yang bisa ditampung oleh tulang, sehingga ada teori yang bisa dipertanggungjawabkan mengenai itu. Kemudian memberikan berbagai macam solusi jika ada masalah," terang Titan.
Alat buatan Rafi yang bisa dibilang masih prototipe itu diharapkan masih bisa berkembang lebih ringkas. Bahkan sudah ada rencana untuk pembahasan hak paten dengan LIPI.

"Dengan LIPI berencana pematenan, tapi masih perbincangan. Dari kita sendiri akan mengurus pematenan," kata Titan.

"Ini bisa disebut prototipe tapi sudah berfungsi baik. Ini membuatnya cepat, satu alat sekitar Rp 75 ribu," imbuhnya.

Sementara itu wali kelas Rafi di kelas 5 Yunus, Hari Priyono mengatakan Rafi memang unggul di bidang Matematika dan IPA melebihi teman-teman sekelasnya. Ia pandai bergaul dan melihat situasi di sekitarnya.
"Pergaulannya bagus, pelajarannya bagus. Matematika sering dapat nilai 100, dari segi pelajaran IPA juga tinggi," ujar Hari.
"Saya ini makannya nasi juga, kalau pagi suka makan sereal," timpal Rafi sembari tersipu malu.


(alg/Hbb) (DetikCom)
 


Kamis, 08 Oct 2015
Jeffry Wicaksana, Remaja Pencipta Helm Bambu Berstandar SNI

- detikNews
Jakarta - Masyarakat Indonesia diharuskan memakai helm SNI (Standar Nasional Indonesia) ketika berkendara. Pernahkah ada di benak Anda pohon bambu bisa disulap jadi helm yang diakui dengan SNI? Jeffry Wicaksana, seorang remaja Jakarta berusia 17 tahun menjawab pertanyaan itu.

Jeffry yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA Santa Laurensia, Jakarta itu, menciptakan inovasi produk helm berstandar nasional dari sebilah bambu ketika ikut lomba karya ilmiah di LIPI. Alhasih dia menggondol juara di bidang Ilmu Pengetahuan Teknik.

"Saya lihat helm motor itu kan banyak pakai plastik, kebutuhan kita akan plastik itu kan menggunakan minyak tanah yang lama-lama akan habis. Jadi kepikiran saja kenapa kita enggak coba cari benda untuk subsitusi helm itu. Bambu itu diremehkan, padahal fungsinya banyak," katanya soal awal idenya, kepada detikcom di Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Rabu (14/5/2014).

Idenya itu membawanya meraih medali emas di kompetisi Olimpiade Proyek Ilmiah Tingkat Internasional Bidang Fisika Lingkungan tahun 2013. Keunggulannya karena bambu dianggap lebih ramah lingkungan.

"Saya coba bikin material bambu komposit untuk helm sepeda motor tapi untuk luarnya saja, di dalamnya tetap pakai stereofom. Kami pakai carbon fiber agar sepeda motornya lebih kuat, jadi kalau ada benturan lebih aman. Lebih ramah lingkungan karena bisa tergradasi dengan cepat dibanding plastik juga," jelas Jeffry yang membuat inovasi itu bersama satu orang teman lainnya.

Karya inovasi Jeffry itu membuatnya direkomenasikan Kemendikbud ikut program Outstanding Students For The World. Program tahunan itu memfasilitasi sejumlah siswa dan mahasiswa yang dianggap berprestasi untuk unjuk kebolehan ke luar negeri. Tahun ini, pelajar yang terkemuka itu akan berkunjung ke Kanada selama seminggu, 18-25 Mei mendatang.

Jeffry berujar, prestasinya tidak hanya inovasi helm bambu itu saja. Sebagai anak remaja, dia mengaku adalah orang yang sering merasa penasaraan akan sesuatu hal baru. "Hobby saya iseng mencoba sesuatu. Saya tipe bosanan dan sering merasa penasaran," katanya.

Prestasi lain pria berkaca mata itu juga tersebar di berbagai bidang seperti lomba debat, matematika, komputer, dan lomba menulis. "Passion saya enggak bisa stay di satu tempat, saya enggak bakal tahan lakukan rutinitas," ujarnya.

Anak pertama dari dua bersaudara itu melanjutkan dia masih ingin mengembangkan helm bambunya. Tapi, lagi-lagi seperti anak berpretasi lain, dia kesulitan karena belum ada penyedia dana.
"Saya niat untuk membuatnya secara massal kalau misalnya bisa ada yang danain. Kalau mau dieksperimen lebih lanjut lumayan mahal sih, tapi kalau biaya produksinya bisa bersaing sama helm plastik. Ini aman sudah diuji SNI, bahkan sebenarnya lebih aman daripada yang plastik jika ada terjadi benturan," kata pelajar yang ingin kuliah di Hongkong itu. (DetikCom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih atas kunjungan Anda.